By : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)
Berbahagialah orangtua yang
dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika
sabar dan sukses mendidiknya. Barangsiapa yang diuji dengan memiliki anak
wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi
penghalangnya dari api neraka (HR. Bukhori).
Sebagian orangtua menganggap
remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal
wanita adalah tiang peradaban dunia. Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak
wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan. Gagal
mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan (ibu baik) di masa
depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat.
Ajarilah anak wanita kita akan
keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan
perawan itu beda! Perawan terait dengan faktor fisik, dimana selaput dara tidak
robek. Sementara suci terkait faktor akhlak dan sikap. Banyak wanita yang bisa
jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badanya disentuh, bibirnya
dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh. Sementara banyak juga wanita yang
tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tidak
biarkan lelaki lain mennyentuhnya.
Qur’an memberikan wanita gelar
terbaik kepada Maryam sebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata,
sikap dan tingkah laku. Maryam tak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka,
saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah. Demikian pula dengan
Bunda Khadijah, istri Rasulullah yang tidak lagi perawan tapi digelari ‘Ath
Thohirah’ atau wanita suci. Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi
berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yang menjaga
kesuciannya.
Maka, tugas utama orangtua yan
memiliki anak wanita adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar
keperawanan. Ajarkan anak wanita untuk bersikap sepatutnya terhadap lelaki
asing atau yang bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri.
Saat anak wanita belum baligh
atau masih anak-anak, ajarkan ia untuk membedakan 3 jenis sentuhan: pantas,
meragukan dan haram.
ü
Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini
dilakukan oleh orang lain kepada anak wanita yang belum baligh di bagian
sekitar kepala dan pundak.
ü
Sentuhan yang meragukan. Yakni antara kasih
sayang vs nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turunn ke bahu
trus ke pinggang. Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke
perut ajarkan anak untuk menolak dengan kalimat “aku gak suka ah.”
ü
Terakhir, sentuhan haram. Yakni di wilayah
sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan untuk menolak dan
menghindar.
Dengan mengajari anak kita tentang sentuhan, ajarkan juga
kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak boleh sembarangan
disentuh.
Selain itu, ajarkan juga kepada
anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing.
Sikapi dengan beda. Buat anak wanita tidak membutuhkan sosok lelaki lain yang
jadi ‘pahlawan’ nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya. Saat mereka tumbuh
remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosk
lelaki idola dalam hidupnya, khusunya ayahnya.
Sebagian besar remaja wanita yang
memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola dirumahnya sebagai
tempat berbagi. Dengan ayah dan kakak kandung tidak akrab. Sehingga ia
membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadila
mereka anak cabe-cabean.
Itulah kenapa AYAH perlu hadir
dalam jiwa anak wanita sedari dini. Harus ada ikatan batin di antara mereka agar anak wanita ta
cari idola lain. Ayah harus sering berkomunikasi dengan anak wanita nya saat
dalam kandungan. Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali didengar.
Saat lahir, jadikan wajah AYAH lebih banyak di scan dalam memori anak. Hadirkan
ekspresi saat menggendong anak. Ikatan batin antara ayang dan anak wanita ini
memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup.
Saat anak wanita mulai jatuh
cinta, ia akan jadikan AYAH sebagai mentor cintanya. Tak ingin ditipu lelaki
buaya. Nasehat ayah jadi panduan. Saat anak wanita siap menikah, ia mencari
sosok lelaki seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya. Bahkan saat anak
wanita menjalani gonjang ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai
tempat curhat. Ayahnya la yang jadi Labuan.
Peran ayah dalam menjaga kesucian
anak wanita amatlah vital. Rusaknya moral anak wanita saat ini salah satunya
adalah karena ketidakterlibatan ayah dalam mengasuh. Karena itu, ajaklah para
ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak Cuma sekedar cari nafkah. Tapi peduli
akan anaknya khususnya yang wanita.
Semoga anak wanita di negeri ini selalu jaga kesuciannya
sehingga lahir generasi yang diberkahi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar