Sabtu, 20 Agustus 2016

MAAFKAN IBU ANAKKU




Setelah ayahnya meninggal dunia, seorang anak telah mengantar ibunya ke panti jompo. Dia datang menengok ibunya dari satu waktu ke waktu lain. Pada suatu hari ia menerima panggilan dari panti jompo tersebut, yang mengabarkan kalau ibunya dalam keadaan di ujung nyawa & hampir meninggal. Dengan cepat dia datang untuk berada di samping ibunya pada saat terakhir.

Dia bertanya kepada ibunya : apakah yang ingin saya lakukan untuk ibu
Ibunya menjawab                  : aku mau kau sumbangkan kipas angin untuk panti jompo ini, karena
                                                disini tidak ada kipas angin. Letakkan juga kulkas, tukang masak,
                                                karena sering aku tertidur dalam keadaan lapar tidak makan.
Anak itu bertanya kembali   : ibu, kenapa pada saat seperti ini ibu baru menginginkan semua hal ini?
Ibunya memberi alasan       : tidak apa apa anakku, ibu sudah bisa menyesuaikan diri dengan
                                               kehidupan panas tanpa kipas dan lapar. CUMA IBU BINGUNG DAN
                                              TAKUT NANTI SAAT ANAK-ANAK KAMU MENGANTAR KAMU
                                              KESINI KAMU TIDAK BISA MENYESUAIKAN DIRI.

Renungkanlah Apa rasanya kalau ibu atau ayah kita sendiri yang mengirim pesan berikut?

Anakku…
Bila aku tua,
Andaikan aku jauhkan gelas atau piring dari genggamanku,
Aku berharap kamuu tidak menjerit marah terhadapku,
Karena tenaga orang tua sepertiku semakin tidak kuat karena aku sakit,
Dan pandangan mataku semakin kabur,
Kamu harus mengerti dan bersabar denganku.

Anakku…
Bila aku tua,
Andai andai tutur kataku lambat atau perlahan,
dan aku tidak mampu mendengar apa yang kamu katakan,
Aku berharap kamu tidak menjerit kepadaku,
Ibu tuli kah?”
“Ibu bisu kah?”
Aku minta maaf anakku.
Aku semakin MENUA…

Anakku…
Bila aku tua,
Andai aku selalu saja bertanya tentang hal yang sama berulang-ulang.
Aku berharap kamu tetap sabar mendengar dan melayaniku,
Seperti aku sabar menjawab pertanyaanmu saat kamu kecil dulu,
Semua itu adalah bagian dari proses MENUA.
Kamu akan mengerti nanti bila kamu semakin tua.

Anakku…
Bila aku tua,
Andai aku berbau busuk, amis dan kotor,
Aku berharap kamu tidak tutup hidung atau muntah di depan aku.
Dan tidak menjerit menyuruh aku mandi.
Badan aku lemah.
Aku tidak ada tenaga untuk melakukan semua itu sendiri.
Mandikanlah aku seperti aku memandikanmu semasa kamu kecil dulu.

Anakku…
Bila aku tua,
Seandainya aku sakit,
Temanilah aku,
Aku ingin anakku selalu bersamaku.

Anakku…
Bila aku tua dan waktu kematianku sudah tiba,
Aku berharap kamu akan memegang tanganku,
Dan memberi kekuatan untuk aku menghadapi kematianku.
Jangan cemas.
Jangan menangis.
Hadapi dengan keridhoan.
Aku berjanji padamu.
Bila aku bertemu Allah.
Aku akan berbisik kepadaNya,
Supaya senantiasa memberkati dan merahmati kamu,
Karena kamu sangat mencintai dan menaatiku.

Terima kasih banyak karena mencintaiku…
Terima kasih banyak karena menjagaku…

Aku mencintaimu kamu lebih dari kamu mencintai dirim sendiri…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar